gravatar

termasuk apakah aku?

Apakah orang yang sibuk?
Orang yang sibuk adalah orang yang suka menyepelekan waktu sholatnya,
seolah-olah ia mempunyai kerajaan seperti kerajaan Nabi Sulaiman A.S.
Maka sempatkanlah bagimu untuk beribadah... dan bersegeralah

Apakah orang yang manis senyumannya?
Orang yang mempunyai senyuman yang manis adalah orang yang ketika
ditimpa musibah, lalu dia berucap "Inna lillahi wainna illaihi rajiuun."
Kemudian berkata,"Ya Rabbi, Aku ridho dengan ketentuanMu ini", sambil
mengukir senyuman.
Maka berbaik hatilah dan bersabar...

Apakah orang yang kaya ?
Orang yang kaya adalah orang yang bersyukur dengan apa yang ada, dan
tidak lupa akan kenikmatan dunia yang sementara ini. Maka bersyukurlah
atas nikmat yang kau terima dan berbagilah.. .

Apakah orang yang miskin?
Orang yang miskin adalah orang tidak puas dengan nikmat yang ada,selalu
menumpuk-numpukkan harta. Maka janganlah kau menjadi kikir juga
dengki...

Apakah orang yang rugi?
Orang yang rugi adalah orang yang sudah sampai usia pertengahan, namun
masih berat untuk melakukan ibadah dan amal-amal kebaikan. Maka
hargailah waktumu dan bersegeralah. ..

Apakah orang yang paling cantik?
Orang yang paling cantik adalah orang yang mempunyai akhlak yang baik.
Maka peliharalah akhlakmu dari dosa dan noda...

Apakah orang yang mempunyai rumah yang paling luas?
Orang yang mempunyai rumah yang paling luas adalah orang yang mati
membawa amal-amal kebaikan, dimana kuburnya akan diluaskan sejauh mata
memandang.
Maka beramal shalehlah selagi sempat dan mampu...

Apakah orang yang mempunyai rumah yang sempit lagi
dihimpit ?
Orang yang mempunyai rumah yang sempit adalah orang yang mati tidak
membawa mal-amal kebaikan, lalu kuburnya menghimpitnya. Maka ingatlah
akan kematian dan
kehidupan setelah dunia...

Apakah orang yang mempunyai akal ?
Orang yang mempunyai akal adalah orang-orang yang menghuni surga kelak,
karena telah menggunakan akal sewaktu di dunia untuk menghindari siksa
neraka. Maka peliharalah akal sehatmu dan pergunakan semaksimal mungkin
untuk mengharap
ridho-Nya...

Apakah org yg pelit ?
Orang yg pelit ialah org yg membiarkan atau membuang tulisan ini begitu
saja, malah dia tidak akan menyampaikan kepada org lain. Maka
sampaikanlah kepada yang lain sedikit berita gembira ini selagi
sempat,karena tiada ruginya bagimu...
[ Read More.. ]
gravatar

renungan: seandainya Rasulullah bertamu kerumah kita

Bayangkan apabila Rasulullah SAW dg seizin Allah tiba-tiba muncul mengetuk rumah kita…

Beliau datang dengan tersenyum dan muka bersih di muka pintu rumah kita.

Apa yang akan kita lakukan?

Mestinya kita akan sangat berbahagia, memeluk beliau erat-erat dan lantas mempersilahkan beliau masuk ke ruang tamu kita. Kemudian kita tentunya akan meminta dg sangat agar Rasulullah saw sudi menginap beberapa hari di rumah kita.

Beliau tentu tersenyum…

Tp barangkali kita meminta pula Rasulullah saw menunggu sebentar di depan pintu karena kita teringat video CD rated R18+ yang ada di ruang tengah dan kita tergesa-gesa memindahakan dahulu video tersebut kedalam.

Beliau tentu tersenyum…

Barangkali kita teringat lukisan wanita setengah telanjang yang kita pajang di ruang tamu kita, sehingga kita terpaksa juga memindahkannya ke belakang secara tergesa-gesa.
Barangkali kita akan memindahkan lafal Allah swt dan Muhammad saw yang ada di ruang samping dan kita meletakkannya di ruang tamu.

Beliau tentu tersenyum…

Bagaimanana bila kemudian Rasulullah saw bersedia menginap di rumah kita?
Barangkali kita menjadi malu bahwa anak kita lebih hafal lagu-lagu barat daripada menghafal sholawat kepada Rasulullah saw.
Barangkali kita menjadi malu bahwa anak-anak kita tidak mengetahui sedikitpun sejarah Rasulullah saw karena kita lupa dan lalai mengajari anak-anak kita.

Beliau tentu tersenyum…

Barangkali kita menjadi malu bahwa anak kita tidak mengetahui satupun nama keluarga Rasulullah saw dan sahabatnya tetapi hafal di luar kepala mengenai anggota power rangers atau kura-kura ninja.
Barangkali kita harus menyulap satu kamar mandi menjadi ruang sholat.
Barangkali kita teringat bahwa perempuan di rumah kita tidak memiliki koleksi pakaian yang pantas untuk berhadapan kepada Rasulullah saw.

Beliau tentu tersenyum…

Belum lagi koleksi buku-buku kita dan anak-anak kita.
Belum lagi koleksi kaset kita dan anak-anak kita.
Belum lagi koleksi karaoke kita dan anak-anak kita.
Kemana kita harus menyingkirkan semua koleksi tersebut demi menghoramati junjungan kita ?
Barangkali kita menjadi malu diketahaui junjungan kita bahawa kita tidak pernah ke masjid meskipun adzan berbunyi.

Beliau tentu tersenyum…

Barangkali kita menjadi malu karena pada saat maghrib keluaraga kita malah sibuk di depan TV.
Barangkali kita menjadi malu karena kita menghabiskan hampir seluruh waktu kita untuk mencari kesenangan duniawi.
Barangkali kita menjadi malu kerena keluarga kita tidak pernah menjalankan sholat sunnah.
Barangkali kita menjadi malu karena keluarga kita sangat jarang membaca Al-Quran.
Barangkali kita menjadi malu bahwa kita tidak mengenal tetangga-tetangga kita.

Beliau tentu tersenyum…

Barangkali kita menjadi malu jika Rasulullah saw menanyakan kepada kita siapa nama tukang sampah yang setiap hari lewat di depan rumah kita.
Barangkali kita menjadi malu jika Rasulullah saw bertanya tentang nama dan alamat tukang penjaga masjid di kampung kita.

Betapa senyum beliau masih disitu…

Bayangkan apabila Rasulullah saw tiba-tiba muncul di depan rumah kita…

Apa yang akan kita lakukan ?
Masihkah kita memeluk junjungan kita dan mempersilahkan beliau masuk dan menginap di rumah kita?
Ataukah akhirnya dengan berat hati, kita akan menolak beliau berkunjung ke rumah kita karena hal itu akan sangat membuat kita repot dan malu.

Maafkan kami ya Rasulullah…

Masihkah beliau tersenyum ?

Senyum pilu…
Senyum sedih… dan senyum getir…

Oh, betapa memalukannya kehidupan kita saat ini di mata Rasulullah SAW.
[ Read More.. ]
gravatar

tangan ajaib seorang ibu

Bismillahirrahmanirrahim..
“Bu, aku mau itu. Ambilkan!”
“Sebentar nak, ibu lagi masak. Coba ambil sendiri, Nak!”
“Nggak mau bu, ambilkan!”
Setelah 5 menit diambilkan, kamu merengek meminta yang lain.
“Bu, aku minta minum!”
“Sebentar ya Nak, ibu ngambil jemuran dulu”
“Cepetan bu!”
Sedikit cerita di masa kecil, kamu masih ingat ketika kamu menyuruh ibu mu apa saja walaupun keadaan ibu mu sedang sibuk. Bila tidak dituruti kamu akan menangis, meraung, bahkan mogok makan atau bicara. Masih ingatkah?
Jiwa seorang ibu meski rasa lelah menghinggapi, tetap saja waktunya hanya untuk sang anak. Apapun yang beliau kerjakan, yang didahulukan pasti anaknya.
Tangan seorang ibu tak akan pernah berhenti untuk anaknya, bahkan ketika malam menjelang pun seorang ibu dengan rela bangkit membuka matanya, menggerakkan tangannya hanya untuk membuatkan sebotol susu..Subhanallah..
Tapi apakah yang ibu mu lakukan sebanding dengan apa yang kamu lakukan pada ibumu?
Berapa kali ibu mu harus berbicara dari yang lembut sampai berteriak hanya untuk memohon dan meminta bantuanmu mengerjakan apa yang ibu mu perintahkan. Atau kamu hanya menggelengkan kepala dan berkata “ah, aku disuruh terus, aku capek bu!”
Pernahkah ibu mu mengeluh dan mogok mengurusmu saat kamu membutuhkannya? Lalu mengapa kamu begitu tega padanya? Apa yang membuatmu begitu enggan membantunya melepaskan masa penatnya meski hanya sesaat.
Renungkan sahabat, cinta ibu mu bagaikan detak nadi yang tak pernah bisa diukur dengan alat modern apapun, karena beliau mencintaimu dengan tulus meskipun kamu melakukan apapun pada ibu bahkan bila kamu bersikap “enggan” padanya pun, beliau tetap ada untukmu.
Ibu..
Tangan ajaibmu seluas hamparan lelah
membesarkan anakmu yang banyak salah
Bila ku berlalu dengan goyah
Kau selalu ada memberi celah
Ibu..
Tangan ajaibmu tak pernah salah
kau tengadakan agar ku melangkah
hingga ku mampu terarah
sampai ku bertemu tanah
Ibu..
Tangan ajaibmu kan membawamu ke surga terindah
walaupun kau penat mendengarku berkisah
namun kasihmu terasa dalam darah
namun tiada maafmu membuatku gelisah..
Ibu..maafkan kami..tangan ajaibmu yang mampu menaklukkan hati kami
Salam sayang kami padamu, Ibu..
[ Read More.. ]
gravatar

JILBAB lebih dari sekedar penutup kepala

Seruak rasa sedih hadir di hati. Melihat seorang teman lama yang dulu ketika masih dalam kebersamaan begitu anggun dengan jilbab lebarnya dan gamis. Bukan yang pertama kalinya, karena sebelumnya dalam kesempatan yang berbeda, dua orang teman lamapun menyuguhkan hal yang sama di pandang mata, rok yang mengidentikkan dia adalah sorang “akhwat” telah berganti menjadi celana ketat yang sering diidentikkan dengan penampilan modis.
Sebuah diskusi kecil dengan seorang sahabat dekat membicarakan fonemena ini baru saja dilakukan. Begitu mengejutkan mendengar pengalamannya, tentang seorang temannya yang dengan mudah melepas jilbabnya demi mengejar kesenangan pribadi yang semu. Identitas kemuslimahan yang seharusnya bukan sekedar menjadi kebanggaan pada ad-dien ini, bisa dengan mudah lumat dimakan waktu dan keadaan.
Mari kita berbicara tentang kemuslimahan ini!
Allah Swt, Illah semesta alam yang Mahabijak telah memberikan aturan sedemikian rupa tentang bagaimana seorang wanita Islam memerankan tak hanya kewanitaannya, tapi juga status kemuslimahannya dalam kehidupan. Ada ketaatan-ketaatan yang seharusnya dijalani semata bukan karena mengikuti arus lingkungan yang membentuk pribadinya menjadi wanita taat, tapi ruh ketaatan yang pada hakikatnya harus mengerti mengapa dan untuk apa kita melakukannya begitu. Sadar saja tidak cukup tanpa diiringi kepahaman, pun sebaliknya kefahaman juga butuh kesadaran dalam muara keikhlasan melakukan atau meninggalkan ketetapan aturan.
Di zaman yang dengan begitu mudah informasi dan pengetahuan apapun diakses, tentunya kita semua telah mengetahuinya bagaimana Islam mengatur cara seorang muslimah berpakaian. Batasan-batasan syar’i pakaian seperti apa yang dimaksud pakaian takwa pun telah “disepakati” bersama. Tidak tipis dan transparan dalam artian tanpa dobelan ketika memakai, tidak membentuk lekuk tubuh dalam konteks pakaian
sempit/mempet dan tetap fungsi utamanya adalah sebagai pakaian takwa, bukan hiasan tubuh hingga atas nama hiasan itu seseorang menjadi begitu antusias update mode pakaian. Dan masih ada beberapa persyaratan lagi.
Syarat, menjadi tolak ukur benar tentang ketepatan syar’i tidaknya seorang muslimah mengenakan pakaian. Sehingga dalam hal ini, memenuhi semua syarat menjadi suatu kemutlakan. Pun tak perlu berdebat tentang muslimah yang pakainnya syar’i tapi hatinya masih kotor, sehingga argumen pembenaran ini muncul; “yang penting jilbabi dulu hatinya.” Karena jelas ketetapan perintah itu, bahwa semua bagian fisik wajib ditutupi kecuali muka dan telapak tangan. Ini perintah yang sangat jelas, tentang bagaimana seorang muslimah memperlakukan fisiknya. Sementara hati adalah konteks lain yang tentunya juga harus diperhatikan.
Namun, masalah baru pun menemukan ruangnya untuk hadir, ketika menutup aurat bagi seorang muslimah hanya difahami sebatas perintah yang harus ditaati. Ketika hanya sebatas mampu menjawab tanya “mengapa harus menutup aurat?” dengan jawaban “karena sudah selayaknya seorang wanita Islam melakukannya begitu, dalilnya jelas dan menjadi kewajiban yang kalau dilanggar berarti dosa”.
Mari kita telisik lebih dalam.
Tidak ada yang salah dengan alasan memenuhi kewajiban menutup aurat bagi seorang muslimah, karena memang demikian adanya. Namun, ketika itu hanya difahami sebagai sebuah kewajiban tanpa adanya upaya mengkaji dan mengetahui lebih dalam mengapa Allah SWT yang Maha Penyayang menginginkannya begitu, secara tidak disadari, barangkali seorang muslimah hanya menghargai jilbab sekedar penutup kepala. Padahal, ada nilai lain mampu menjadi karekter kuat alasan jilbab menjadi sesuatu yang patut di pertahankan sesuai syari’at. Sehingga diujungnya, sebuah kesimpulan hadir dari kepahaman dan kesadaran diri, bahwa menjadi muslimah adalah anugerah yang tak hanya harus disyukur tapi juga dijaga oleh diri sendiri.
Jilbab, bukan hanya sekedar penutup kepala. Tapi adalah kehormatan dan harga diri muslimah. Ya, kehormatan dan harga diri, yang dalam hubungan sosial menjadi hal yang sensitif . Sehingga jika demikian seorang muslimah memberi nilai dan arti pada jilbabnya, maka tak ada lagi “tawar menawar” syarat menutup aurat dengan berderet alasan logis namun dangkal dan menjerumuskan.
Bukankah Allah swt telah begitu luar biasa memberikan penjagaan terhadap muslimah agar tidak mudah diganggu dengan perintah diwajibkannya menutup aurat? Dan sungguh, betapa Allah Swt Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
“Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Ahzab 33; 59)
[ Read More.. ]
gravatar

ya Allah, kuatkan aku

Ya Allah…
Belakangan ini aku sering mengeluh pada-Mu, aku haus akan rahmat keimanan dari-Mu, aku yakin Engkau tidak akan meninggalkanku, namun apalah dayaku ya Allah, aku belum bisa membaca tanda-tanda dari-Mu..
Ya Allah
Aku mohon dari hati yang terdalamku, berilah aku kesempatan untukku bisa menyelesaikan amanahku dengan baik. Aku takut, amanah ini yang akan mengganjal ku menemui mu..!!!:'(
Ya Allah…
tulangku sudah lelah dan tubuhku pun mulai ringkih sehingga tarikan nafasku mulai isak mengisak. Aku takut ya Rabb. Ampun. Kuatkan aku ya Rabb. Jangan biarkan aku larut terdalam seperti ini. Aku punya cita-cita besar untuk masa depanku. Jika aku jauh dari-Mu, aku tidak sanggup ya Rabb. Siapa yang akan menuntun ku lagi. Siapa yang akan memberikan cahaya terindah kasih. Siapa Ya Rabb…?


Ya Allah…
Dunia ku semakin mendesakku. Aku terlempar kedalam sisi terlemahku. Aku sesaat merasa hampa dan terdiam. Aku ingin kuat, namun aku tidak tahu caranya? Ya Allah, jangan hukum aku dengan kehampaan ini. Jangan ya Rabb. Berikan aku sinar terang itu ya Rabb. Aku ingin menemui-Mu dalam sujud terindahku dalam kesendirianku. Dunia ini sungguh melenakanku...
Ya Allah..
apakah selama ini syukurku adalah syukur yang pura-pura ya Rabb??? Ampun..ampun. Aku menyesal ya Rabb. Panggil lagi jiwa ini ya Rabb. Oh Al-Qur’an tangan ini ingin menggenggam-mu selamanya, mata ini ingin melihat lekukan jiwa-mu dan nafas ini ingin menghembuskan Lafaz-mu. Mungkin itulah jawabannya.
Ya Allah…
betapa Engkau tahu diri ini lemah, sangat lemah…
kuatkanlah aku ya Rabb…
bolehkah sejenak merasakan lagi isyarat-isyarat indah nikmat-Mu yang mampu membuatku terpana dan terpesona. Ya Rabb, kabulkanlah ya Rabb. Ya Allah, berikanlah kehidupan yang baik bagi ku, masa depan yang penuh penaklukan bagi ku, aku tidak ingin menyia-nyiakan hidup yang sesaat ini.
Ya Rabb, tuhan yang Maha Mendengar..rintihan-rintih
an hamba-hamba-Nya. Bolehkan aku kembali…
dan masihkan terbuka pintu bagi ku…
dan aku pun tahu…
betapa Engkau akan seperti itu…
Selamanya…
terimakasih ya Rabb…
semoga rintihan ini terjawab…
saat waktunya nanti Engkau mengirimkan untukku berita gembira tentang aku yang akan segera bertemu dengan-Mu…
Ya Allah…
ampun…!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
[ Read More.. ]
gravatar

dia mencium bau surga

Di dalam sebuah hadits yang bersumber dari Abu Hurairah rhodiyallaahu ‘anhu, Rasululllah shollallaahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, “ Ada tujuh golongan orang yang mendapat naungan Allah pada hari tiada naungan selain dari naunganNya… diantaranya, seorang pemuda yang tumbuh dalam melakukan ketaatan kepada Allah.”
Dan di dalam sebuah hadits shohih yang berasal dari Anas bin an-Nadhr rhodiyallaahu ‘anhu, ketika perang Uhud ia berkata,”Wah …. angin surga, sunguh aku telah mencium wangi surga yang berasal dari balik gunung Uhud.”
Seorang Doktor bercerita kepadaku, “ Pihak rumah sakit menghubungiku dan memberitahukan bahwa ada seorang pasien dalam keadaaan kritis sedang dirawat. Ketika aku sampai, ternyata pasien tersebut adalah seorang pemuda yang sudah meninggal – semoga Allah merahmatinya -. Lantas bagaimana detail kisah wafatnya. Setiap hari puluhan bahkan ribuan orang meninggal. Namun bagaimana keadaan mereka ketika wafat? Dan bagaimana pula dengan akhir hidupnya?
Pemuda ini terkena peluru nyasar, dengan segera kedua orang tuanya –semoga Allah membalas segala kebaikan mereka- melarikannya ke rumah sakit militer di Riyadh.
Di tengah perjalanan, pemuda itu menoleh kepada ibu bapaknya dan sempat berbicara. Tetapi apa yang ia katakan? Apakah ia menjerit dan mengerang sakit? Atau menyuruh agar segera sampai ke rumah sakit? Ataukah ia marah dan jengkel ? Atau apa?
Orang tuanya mengisahkan bahwa anaknya tersebut mengatakan kepada mereka,
‘Jangan khawatir! Saya akan meninggal … tenanglah … sesungguhnya aku mencium wangi surga.!’ Tidak hanya sampai di sini saja, bahkan ia mengulang-ulang kalimat tersebut di hadapan para dokter yang sedang merawat. Meskipun mereka berusaha berulang-ulang untuk menyelamatkannya, ia berkata kepada mereka, ‘Wahai saudara-saudara, aku akan mati, maka janganlah kalian menyusahkan diri sendiri… karena sekarang aku mencium wangi surga.’
Kemudian ia meminta kedua orang tuanya agar mendekat lalu mencium keduanya dan meminta maaf atas segala kesalahannya. Kemudian ia mengucapkan salam kepada saudara-saudaranya dan mengucapkan dua kalimat syahadat, ‘Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah’ Ruhnya melayang kepada Sang Pencipta subhanahu wa ta’ala.
Allahu Akbar … apa yang harus aku katakan dan apa yang harus aku komentari…Semua kalimat tidak mampu terucap … dan pena telah kering di tangan… Aku tidak kuasa kecuali hanya mengulang dan mengingat Firman Allah subhanahu wa ta’ala, “ Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan akhirat.” (Ibrahim : 27)
Tidak ada yang perlu dikomentari lagi.
Ia melanjutkan kisahnya,
“Mereka membawa jenazah pemuda tersebut untuk dimandikan.  Maka ia dimandikan oleh saudara Dhiya’ di tempat pemandian mayat yang ada di rumah sakit tersebut. Petugas itu melihat beberapa keanehan  yang terakhir. Sebagaimana yang telah ia ceritakan sesudah shalat Magrib pada hari yang sama.
  1. Ia melihat dahinya berkeringat. Dalam sebuah hadits shahih Rasulullaah Shallallaahu ‘alahi wasallam bersabda, “Sesungguhnya seorang mukmin meninggal dengan dahi berkeringat”. Ini merupakan tanda-tanda khusnul khatimah.
  2. Ia katakan tangan jenazahnya lunak demikian juga pada persendiannya seakan-akan dia belum mati. Masih mempunyai panas badan yang belum pernah ia jumpai sebelumnya semenjak ia bertugas memandikan mayat. Pada tubuh orang yang sudah meninggal itu (biasanya-red) dingin, kering dan kaku.
  3. Telapak tangan kanannya seperti seorang yang membaca tasyahud yang mengacungkan jari telunjuknya mengisyaratkan ketauhidan dan persaksiannya, sementara jari-jari yang lain ia genggam.
Subhanalllah … Sungguh indah kematian seperti itu. Kita memohon semoga Allah subhanahu wa ta’ala menganugrahkan kita khusnul khatimah.
Saudara-saudara tercinta … kisah belum selesai…
Saudara Dhiya’ bertanya kepada salah seorang pamannya, apa yang ia lakukan semasa hidupnya? Tahukah anda apa jawabnya?
Apakah anda kira ia menghabiskan malamnya dengan berjalan-jalan di jalan raya?
Atau duduk di depan televisi untuk menyaksikan hal-hal yang terlarang? Atau ia tidur pulas hingga terluput mengerjakan shalat? Atau sedang meneguk khamr, narkoba dan rokok? Menurut anda apa yang telah ia kerjakan? Mengapa ia dapatkan husnul khatimah (insyaAllah –red) yang aku yakin bahwa saudara pembaca pun mengidam-ngidamkann ya; meninggal dengan mencium wangi surga.
Ayahnya berkata, “Ia selalu bangun dan melaksanakan shalat malam sesanggupnya. Ia juga membangunkan keluarga dan seisi rumah agar dapat melaksanakan shalat Shubuh berjama’ah. Ia gemar menghafal al-Qur’an dan termasuk salah seorang siswa yang berprestasi di SMU.”
Aku katakan, “Maha benar Allah” yang berfirman (yang artinya-red)
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Rabb kami ialah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): ‘Janganlah kamu takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan  (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.’ Kamilah pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari (Rabb) Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Fhushilat:30- 32)
Diambil dari : Serial Kisah Teladan Karya Muhammad bin Shalih Al-Qahthani, sebagaimana yang dinukil dari Qishash wa ‘Ibar karya Doktor Khalid al-Jabir.

Sumber : Majalah elfata hal 65-67 edisi 06 volume 07 tahun 2007 dengan sedikit perubahan redaksi.
[ Read More.. ]
gravatar

7 golongan yang akan dilindungi Allah dalam naungan-Nya

Rasulullah saw bersabda: ” Tujuh orang yang akan dilindungi Allah dalam naungan-Nya yaitu: Imam (pemimpin) yang adil; pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah pada Allah; orang yang hatinya selalu terikat pada masjid; dua orang yang saling mencintai karena Allah, berkumpul karena Allah dan berpisah karena Allah pula; seorang lelaki yang dirayu oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan dan kecantikan tetapi ia menolaknya seraya berkata ‘Aku takut kepada Allah’; orang yang bersedekah sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diperbuat oleh tangan kanannya; dan seorang yang berdzikir kepada Allah sendirian lalu menitikkan airmatanya.” (HR. Bukhari Muslim)
  1. Imam (pemimpin) yang adil  Dalam ajaran Islam, seorang imam atau pemimpin haruslah berlaku adil, karena segala hal yang menjadi tanggungjawabnya akan dipertanyakan kembali di akhirat kelak. Maka bergembiralah bagi pemimpin yang dapat berlaku adil, karena akan mendapatkan naungan di sisi Allah swt di akhirat nanti. Pemimpin yang dimaksud tidak hanya pemimpin sebuah negara ataupun penguasa suatu tempat, namun termasuk pula seorang suami yang memimpin isteri dan anak-anaknya dalam sebuah keluarga.
  2. Pemuda tumbuh dewasa dalam beribadah pada Allah swt Allah juga menjanjikan naungan atau lindungan di akhirat kepada pemuda yang senantiasa hidup dalam ibadah kepada Allah swt. Ibadah yang dilakukan tersebut dilakukan semata-mata karena Allah swt, seakan-akan Allah melihat segala perbuatan dan amal ibadahnya itu.
  3. Orang yang hatinya selalu terikat pada masjid  Masjid adalah rumah Allah swt. Naungan Ilahi akan selalu ada di akhirat nanti bagi orang yang senantiasa rindu untuk beribadah di masjid dan merasa betah berada di dalamnya. Setiap waktu, ia selalu menunggu-nunggu tiba saatnya untuk datang ke masjid untuk sholat wajib maupun sunnah, sholat berjamaah, mengaji, mendengarkan ceramah, dan sebagainya.
  4. Dua orang yang saling mencintai karena Allah swt, berkumpul karena Allah dan berpisah karena Allah pula  Dua orang yang saling mencintai karena Allah akan mendapatkan lindungan dari Allah swt di akhirat nanti, dan Allah swt akan mengizinkan kedua orang tersebut untuk masuk ke dalam syurga-Nya. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw bersabda: “Ada seorang lelaki yang ingin mengunjungi saudaranya di sebuah desa. Di dalam perjalanannya Allah SWT mengutus seorang malaikat untuk mengawasinya. Ketika lelaki itu sampai padanya, malaikat itu berkata, “Kemanakah engkau akan pergi?’ Lelaki itu menjawab, ‘Aku ingin mengunjungi saudaraku di desa ini.’ Malaikat itu bertanya lagi, ‘Apakah engkau punya kepentingan dari kenikmatan di desa ini?’ Lelaki itu menjawab, ‘Tidak, hanya saja aku mencintainya karena Allah.’ Kemudian malaikat itu berkata, ‘Sesungguhnya aku adalah utusan Allah SWT yang diutus kepadamu, bahwa Allah juga mencintaimu sebagaimana kamu mencintai-Nya.”
  5. Seorang lelaki yang dirayu oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan dan kecantikan tetapi ia menolaknya seraya berkata ‘Aku takut kepada Allah’  Hal tersebut merupakan salah satu ujian bagi seorang laki-laki, dimana wanita adalah ujian yang sungguh berat bagi kaum laki-laki. Seorang laki-laki yang beriman pada Allah swt takut kepada Allah dan takut kepada azab api neraka, sehingga laki-laki ini sentiasa mendapat perlindungan dari-Nya.
  6. Orang yang bersedekah sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diperbuat oleh tangan kanannya Allah swt akan memberikan perlindungan bagi orang yang suka memberi sedekah dengan ikhlas dan tidak mengharapkan balasan selain ridho Allah swt semata. Dalam bersedekah, ia tidak membesar-besarkannya, sebaliknya ia akan melakukannya secara tersembunyi dan tidak ingin diketahui orang lain.
  7. Seorang yang berdzikir kepada Allah sendirian lalu menitikkan airmatanya Berdzikir dengan hati yang tulus, ridho, dan ikhlas seorang diri, dengan perasaan takut kepada Allah hingga meneteskan airmata, sebagai tanda kecintaan kepada Allah swt, menyadari kebesaran Allah swt, serta merasa dirinya penuh dosa sehingga memohonan ampunan kepada-Nya. Allah akan membukakan pintu syurga untuk orang-orang yang seperti ini.

SUDAHKAH KAMU SEMUA DALAM GOLONGAN INI ?

[ Read More.. ]