gravatar

Ramadhan, aku merindumu

Petang itu terlihat segores bulan pada sisinya mebentuk setengah lingkaran, menandakan perginya bulan Ramadhan dan datanglah bulan Syawal. Kini di masjid-masjid tidaklah ramai dengan jama’ahnya yang menunaikan sholat isya’ kemudian disambung dengan sholat tarawih, juga suara khutbah dari seorang khotib yang lantang dan tegas namun dengan kelembutan yang menyerukan kebaikan dan wahyu-wahyuNya, juga tidak lagi ramai dengan suara-suara damai yang melantunkan ayat suci Al-Qur’an. Tapi kini masjid-masjid diperkampunganku telah ramai dengan gema takbir, jalan-jalanan telah dipenuhi oleh kendaraan bermotor dan mobil-mobil yang membawa rombongan, seolah mereka menyapa bulan baru ini dengan kebahagiaan dan kesejahteraan. Pintu rumahku tak hentinya di masuk-keluari oleh saudara se-aqidahku, mengucap kata maaf dengan penuh penyesalan, anak-anak mereka menangis meronta seolah mewakili kegaduhan hati seorang muslim yang bertaubat. Makanan dan minuman tertata begitu rapi diruang tamu seakan-akan turut menyapa tamu yang datang memasuki rumah yang dipenuhi cahaya gemerlap lampu mengharap maaf demi kesucian hati. Seiring dengan berjalannya waktu, saudara-saudaraku satu per satu meninggalkan rumahku, aku pun lelah karena kegiranganku sendiri untuk menyambut mereka, aku  terlelap dalam dekapan malam.
Gema takbir di pagi hari membangunkanku dari buaian mimpi bersama bidadari-bidadari yang bermata jelih, mendorongku untuk segera mempersiapkan diri untuk melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim, akupun siap bersama ibu, bapak dan kakak didepan rumah untuk melangkah menuju lapangan, aku merasakan kedamaian seiring dengan langkah kakiku, menyapa saudara-saudaraku yang keluar dari rumahnya dan menuju tempat yang sama denganku. Senang rasanya setelah tiba dilapangan yang cukup luas itu, duduk bersama dengan orang-orang seiman mengumandangkan takbir, matahari memunculkan dirinya seolah tak mau ketinggalan dengan kedamaian di bumi, menandakan sholat idul fitri harus segera dilaksanakan, berdirilah seorang imam menuju mihrab, suara lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang dibawakannya membuatku larut didalamnya, merasakan indahnya do’a-do’a yang dipanjatkan didalamnya, seakan menyiram bunga-bunga keimanan setiap jiwa. Seiring gerakan bersedekap, ruku’, sujud dan tahiyat membawaku kepada dua kali salam yang menandakan berakhirnya pertemuanku dengan Allah SWT di pagi hari ini. Seorang dari jama’ah pun berdiri menuju mimbar yang ada dihadapannya, kata-katanya begitu bijaksana, menyapa hati yang sedang gundah, menyadarkan bertapa hinanya diri mungil ini, menggugah jiwa dan raga untuk saling bermaafan, menghambat godaan syaithan untuk sampai didiri. Seiring bertambah tingginya matahari yang menyaksikan kita, khotib mengakhiri khutbahnya dengan seruan-seruan kepada yang ma’ruf. Dengan kompaknya, para jama’ah berdiri dan bersalam-salaman shaff demi shaff.
Kini berlalulah bulan penuh kemuliaan, bulan Ramadhan, dimana tersimpan banyak kenangan didalamnya, kenangan ketika suara pemuda-pemuda yang melangkah dijalan-jalan desa dengan memukul kentongan seraya berucap dengan nada tingginya “sahuur sahuur” yang membangunkanku dari istirahatku, kenangan ketika makan sahur dengan letihnya mata, kenangan ketika sholat shubuh yang disaksikan para malaikat, kenangan ketika menahan hawa nafsu yang bisa datang kapanpun, kenangan ketka menunggu datangnya saat berbuka, kenangan saat melaksanakan qiyamul lail, kenangan saat berlomba-lomba mengkhatamkan Al-Qur’an, kenangan saat beri’tikaf. Kini telah meninggalkan kita bulan yang terdapat ampunan, pembebasan dari api neraka, bulan dimana syaithan-syaithan dikurung oleh kehendakNya, bulan dimana malaikat Rakib disibukkan dengan tugasnya, bulan dimana apabila seorang meninggal dunia di dalamnya akan terbebas dari pertanyaan malaikat mungkar dan nakir saat diliang kubur hingga berlalunya bulan Ramadhan, bulan dimana Al-Qur’an diturunkan kebumi sebagai petunjuk ummat muslim, bulan dimana terdapat malam lailatul qodar yang merupakan malam yang lebih baik dari pada seribu buan. Kini para syaithan memasang spanduk selamat datang yang ditujukan untuk kita anak cucu adam ummat Rasulullah SAW, mereka hendak melancarkan tugasnya kembali setelah satu bulan lamanya mereka ditahan untuk tidak menggoda hamba Allah yang berlomba-lomba dalam kebaikan, dan langkah kakinya senantiasa mencari ridhoNya. Izinkan hambaMu memanjatkan satu permintaan ”ya Allah, pertemukanlah aku dengan bulan Ramadhan, dan pertemukanlah bulan Ramadhan denganku”. Semoga kita dipertemukan dengan bulan Ramadhan tahun depan dengan keluarga yang utuh, dan dengan iman yang semakin bertambah. Aaamiin J
ﻓﺴﺘﺒﻘﻮ اﳋﲑات

| Free Bussines? |